sept 22nd, 1.21am..

walaupun kadang gw too sick of my routines dan ingin bebas.. gw bukan seorang yang bebas dan menganggap kebebasan adalah suatu yang ideal..

sedangkan seorang ARTIST, menurut gw adalah seorang yang bebas..

satu-satunya seni yang dapat gw mempertahankan keseimbangan otak kanan gw cuma piano dan jak-fm [haha..]..

dari piano pun, gw adalah seorang pembaca tunes, bukan pembuat atau pencari tunes.. selain piano, gw cuma penikmat aka penonton dan pendengar..

kadang, otak ini begitu liar ingin ini itu, tapi begitu sampai pada detiknya, gw ngerasa old continous durable ritual lebih fit in to me..

mungkin inilah mengapa, sangat susah untuk gw melakukan something for the very first time.. bahkan untuk sekedar buka puasa di luar, di tempat yang bukan biasanya.. padahal untuk menjadi “biasa”, harus ada pengalaman pertamanya..

dan seni, SENI itu bukan habitual, tidak repetitive.. dan lagu yang gw mainkan diatas tuts tidak mendefinisikan seni, itu hafalan..

fotografi, tari, lukis, syair, semua hanya sekedar lewat dan susah untuk dilakukan, tapi selalu ada something to commend dari seni2 yang gw liat dengar rasakan..

otak kanan dan otak kiri, they complete each other..

Comments No Comments »

sept. 19. 12.45pm.. di kamar gw pas sma, yang udah lama ga gw tiduri.. [gosh, it feels truly homey..]

ga ada internet di kosan emang bener2 mematikan hubungan gw dg dunia luar.. walapun kadang dunia luar gw ambarkan sebagai racun dunia.. god, siapa bilang semua racun pahit? they’re sweet!

anyway, udah lama gw ga ngepost.. kadang gw berpikir ga ada internet juga mematikan potensi blurting out gw.. yet, is the is a will, there is a way..

so far, momen2 yan fascinated me a lot itu posko gempa di pengalengan.. i got the story written down already.. dan beberapa momen yang, argh i hate it, sedikit bikin hati lelah..

but who cares man?? lets roll!

———————–

Kamar 3, September 3, 2009. 9.52 pm

Hari ini udah bulan purnama lagi.. kalo melankolisnya mah, “waktu ternyata cepat banget berlalu.. andai dapat kuputar kembali..” kalo real-nya sih,” astajim! Gila, udah sebulan ajah.. EMS udah seminggu DAN masih bapuk bgt.,” [*EMS: Endocrine and Metabolic System]

Besok gw mau ke posko gempa Tasik di Pengalengan.. sama sekali ga ada bayangan apa yang akan gw lihat disana.. tenang2kah? Secara gempa udah lewat 2 hari yang lalu.. apa justru akan hectic? Apa bakal banyak korban yang heboh keadaan fisik dan mentalnya? Apa murka Tuhan kali ini?

Nihil. mau dibayangin kaya gimana juga, ini kali pertama gw jadi relawan di posko bencana,, semoga ada sesuatu yang menjadikan gw lebih baik dan banyak bersyukur.. kalo mengutip kata dr. Eni tadi siang,”kalo jari ini dicelupkan ke air laut dan diangkat lagi, maka dunia itu satu tetes yang jatuh dari ujung jari adalah dunia, dan seluruh lautan adalah akhirat..” it shakes me while writing that phrase..

oia, in the lowest point of my threshold last night.. gw berpikir.. ‘gw terlalu takut untuk jadi orang jahat, tetapi menjadi orang baik cukup melelahkan..’

satu targetan yang ingin bgt, seingin-inginnya, untuk gw dapetin saat berada di posko besok.. gw mau belajar ikhlas.. akhir2 ini gw sepertinya lupa kalo semua yg gw lakuin seharusnya berasal dan diakhiri oleh ikhlas.. banyaklah tamparan2 halus, yang mengingatkan gw akan ikhlas, gw rasakan cukup ngena, tetapi hati ini dg cepat adaptasi dan kembali tidak merasakan dampak tamparan itu lagi.. sebenernya ga mau dpt tamparan yang lebih keras, tapi rasanya perlu memenjarakan rasa sakit itu biar ga pernah lupa lagi.. astagfirullah..

Itu kan satu keinginan.. bolehlah gw berharap, toh gw juga manusia.. terkadang gw bingung, apakah sesuatu yang gw harapkan itu merupakan suatu ketidakikhlasan? Padahal, we do deserve something good in turn after share good deeds.. itu hukum alam.. beda ceritanya, kalo ternyata Allah sudah memutarbalikan dunia ini karena emang kiamat mungkin sebentar lagi..

——————————————————-

[ini essay eval yang diminta kang dani,, though, it doesnt look like an essay.]

Scrapmind. n. a mind in which cuttings and pictures may be stuck.

On The Way. 7.45 pm. Di dalam bis FK.

“Alhamdulillah, akhirnya target gw sebagai maba jaman dulu kesampaian juga: naik bis FK.

“Gw ikut jadi relawan (untuk pertama kalinya) di posko gempa di Pengalengan bukan karena gw mau cari pengalaman, cari temen + networkings, bukan mau nerapin ilmu2 yang udah gw punya selama 1 tahun di kedokteran. Gw ke posko simply karena acara tanggal 6 september yang udah tersimpan di agenda gw selama 1 bulan tiba2 menghilang. Cancelled. Gw berangkat only for the sake of my restlessness.

“Ternyata ada sekian banyak jenis orang.

a)Jenis Doraemon: bawa semua barang2 yang udah pasti diperlukan dan barang yang kira2 diperlukan dan yang sepertinya akan berguna, walaupun sedikit mengada-ada untuk membuat barang bawaan tsb berguna. Hasil: tas kurang lebih sama dengan kantong doraemon.

b)Jenis Nobita: list barang yang diperlukan udah siap. Dia tahu barang yang akan dia perlukan nanti di perjalanan 2 hari 1 malam, sekaligus tahu siapa yang akan bawa barang tersebut.Hasil: perjalanan ringan dan disinilah saatnya menerapkan teori bahwa manusia saling melengkapi.

Manusia saling melengkapi. The phrase sounds good, doesn’t it?”

Posko Utama. “medik lewat!”

“Rencana di agenda boleh disusun serapi mungkin, mekanisme kerja boleh dipikirkan seefektif mungkin. Tapi saat turun ke lapangan, kita harus flexible.à mengutip kata2 kang dani. Mungkin ini arti tawakal. Siapa sangka ruangan yang sengaja dibuat untuk merawat orang sakit, yang rencananya akan membuat orang sakit merasa nyaman, dengan kasur empuk dan segala macemnya, akan pindah ke lapangan parkir, yang kata ‘nyaman’ sama sekali tidak terdeskripsikan? Dan dokter disini, juga menyapu, mengepel, yang meracik obat, membangun tenda, mengangkut barang2, dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Dokter harus persistent.”

“Disini, ilmu ada di sekeliling kita, ga perlu dicari, hanya perlu didatangi. Mau tau praktek2 darurat kedokteran? Masuk aja ke tenda darurat pasko gempa. Ga mau di dalem tenda darurat yang hectic? Ada adik2 2009 yang siap ngedengerin ilmu yang udah kita punya. Kita bisa membantu in any way, asal mau.”

RW 13. Belasan dokter ‘in training’, satu dokter ‘in charge’.

“Dokter harus kerja cepat, sistematis, efektif, dan adil, siap in charge in any conditions. FLEXIBLE!”

gw ga akanse-aware ini seandainya gw ga ikut terjun ke lapangan..

“..dan doctors have to have a good sense of humor, because it is the shortest way between 2 people.

Desa Margamukti. In the front line.

Bersyukur. Dari sekian ratus relawan dan sekian ratus pasien, hanya kita yang bisa menindaklanjuti dan tau caranya.”

“Pekerjaan dokter bukan superficial. Kita juga bermain profundal [mental, hati, perasaan, dll]. Sama halnya dengan nulis resep, kita harus menegakkan diagnosis lebih dulu, karena kita bukan hanya mengobati gejala, tapi mengobati langsung ke penyebabnya.”

“ISPA: Alpara, Hipertensi: Captopril, Diare:Oralit, Dyspepsia: Antacid, Rheumatic: Analgesic. Tapi praktek ga semudah teori. Faktor X dalam setiap orang berbeda, makanya kita butuh anamnesis. Kita hanya dokter, kita hanya belajar ‘science of average’. Tinggal seberapa banyak kita berdoa.”

Desa Sukaluyu. Menjadi dokter diantara konsulen.

“Ga ada kata mahasiswa-mahasiswaan. Kita semua dokter.”

“Puluhan pasien bergantung pada digit jari kita. Be wise.”

Jatinangor. Kembali ke habitat masing-masing.

“Bahasa Sunda dan foto-foto bersama itu penting dan genting.”

“Makhluk apapun bisa jadi buas kalo belum makan lebih dari 16 jam.”

Di saat-saat terakhir, gw ngerasa pelajaran2 datang so intense at the time. Tensi, anamnesis, baca resep, dan teman-temannya memalingkan fokus gw dari sekedar mencoba mencari kata yang efektif untuk menggambarkan ini semua.

Herdinda THANKS dr. Gery, dr. Nike, kang bebs, kang dani, kang yasser, kang hario, kang galan, kang ryan, teh gyna, teh anin, teh tania, teh farizan, canun, suyitno, saif, muthiah, nanash, dwi, dina, cia, novia, ita, irma SO MUCH.

Pengalengan. September, 5th - 6th 2009.

Comments 1 Comment »

August 24, 2009.. 02.31 pm,

Ga susah ngebedain maba [mahasiswa baru] ternyata..

Liat sekeliling, yang pake baju motif seragam [kalo ga kotak2, garis2, rok item, celana bahan item, ga lupa dasi unpad item], bawa karton, pake nametag, either sendirian celingukan udah kaya takut diculik atau bergerombolan berasa ‘yeah! I am THE man!’.. sedikit mengingatkan gw ama sekelompok anak sd yang mau studi wisata.. man, tas aja seragam, can you imagine?

Mungkin itu yang kakak2 liat pas gw dulu masih maba ya.. yet, it felt never been better than ‘yeah-i-am-a-doctor now!…..and I have my own dormitory’..

Anyway, that wasn’t the thing I’d like to write about..

Hari ini perkenalan angkatan 2008 [which always excellent] ke anak 2009 [yang katanya brilliant].. [knp nada tulisan gw mengintimidasi bgt ya? Haha..] whatever guys, I know it feels good being one of the medical student..congrats!

Mm, jadi, pagi ini, kata yang keluar dari mulut gw, yang lagi-lagi, always, tanpa dipikir adalah: kita semua di asrama, membuat kita seperti keluarga,which family means there’s no one left behind..

It could be right and become a slight light to strengthen the bond among the batch members, or be a major hurt-feeling.. I hope the first statement fit in better..

Yap, angkatan 2008 gw beranggotakan 193 orang, dari dulu ampe sekarang,. Dari sekarang sampai kapanpun.. Despite of the circumstance that crumbles the above mathematical statement.. [can u feel the possessive aura I brought here?] terserah apa yang disampaikan hitam di atas putih, the heart matters now,

From now on, there will be chances to neglect.. yet, at the same proportion, there are chances to put down the reluctance and put up the will to etch decent harmony like it used to be in dormitory..

I am satisfied enough by putting angkatan 2008 as my 3rd priority after my med-study and my natural family.. they brought me much more life-lessons than I thought they would..  God, thank you for bringing these kinds of person and those kinds of person into one whole community and perhaps we can strengthen each other..

Thank you for the past year, this year, next year, and years after, inshaAllah..

Ps. Its been nice serving you guys.,

Comments No Comments »

aug 14, 10.44 pm, jogjakarta

malam yang menyenangkan, simply karena pertemanan yang mendengarkandan didengarkan..

datang dari seorang kawan lama, yang rasanya cukup lama sehingga bisa membuat gw berani untuk mengkritiknya personally..

kritikan [as i name it] ,yang gw sampaikan ke dia, cukup bodoh, tidak elegan.. beberapa saat setelah conversation via technology itu berakhir, barulah gw sadar: ini percakapan kaya points of view antara herdinda yang sombong dan si gampang terkesima..

ceritanya panjang [akan panjang lagi kalo misalnya gw mati2an mencoba merangkai kata yang nantinya akan menyamarkan satu ketidaksyukuran] toh, tulisan ini gw buat, not for other people in the first place, this is my reminder of how to behave, how to shape my own mindset]

intinya: “biarlah gw menikmati compliments yang lo sampaikan tanpa ngerasa hambar” –> argh! silly dinda..

malam ini gw belajar banyak hal:

1. sudut pandang yang berbeda due to different characteristics.

mungkin gw adalah orang yang gampang resisten terhadap sesuatu.. kalo sering dimarahin, gw jadi ga peduli.. kalo sering denger compliments, gw jadi ngerasa itu ga ada istimewanya lagi.. gw jadi suka mikir, ini compliments tulus dari hati apa adanya, apa cuma sekedar courtesy?

padahal! ada aja orang kaya temen gw ini.. kalo itu memang sesuatu yang memberi insight tertentu, why should i hold back myself to give a recognition? toh, ‘rata-rata’ orang seneng kalo di acknowledge seperti itu..

2. di seberang sana, jauh diluar karakter si A dan si B, pasti ada karakter seseorang yang dalam kamus hidupnya ga ada kata “menghargai”, ga pernah kasih ‘terima kasih’, pujian, apapun yang mengangkat hati orang lain.. pelajaran buat gw [ini penting, i need to underline this!] : kenapa gw mesti memberhentikan temen gw dari sekedar memberi pujian? nikmati aja dinda penghargaan tersebut sebelum tidak ada lagi yang memuji kamu, atau tidak ada lagi yang bisa dipuji dari kamu –> nah lho, menyakitkan bukan?

3. on the other hand, kita perlu tau, kapan sebaiknya memberi pujian/saran/whatsoever.. both given in the right time, proportionally, not necessarily equal..

4. dan gw bingung,. knp gw cenderung mengexpect orang lain untuk berubah demi kenyamanan gw in the first place? padahal, kalo gw spend more time untuk berpikir dan mencoba bersikap wise, gw seharusnya ngeliat dari sisi orang lain itu dulu, mencoba berada di posisi dia, meraba apa yang kira2 ada di otak dia, dan mencoba berperasaaan sama dg dia.. jadi, satu harmoni itu ada jika gw bergerak setengah ke arah karakter dia, dan dia bergerak setengah ke arah karakter gw.. 2-way of understanding..

dan above all, gw lega dengan pelajaran yang honestly menampar gw [literally] and push me harder to learn how to thank you, how to be wiser..

semoga temen gw juga lega atas apa yang gw sampaikan later on.. mudah2an dia bertemu banyak dinda yang banyak maunya ini [it means celotehan gw somewhat useful]..

semoga hati kita berkembang seluas jagad..

ps. ttg kupu2 terbalik.. itu karena anting kupu2 gw suka terbalik, sayap lebarnya di atas.. dan mungkin, kalo di kasus ini.. analogikan sendirilah.. =)

Comments 1 Comment »

jadilah si bukan siapa-siapa.

then you will not lose who you are.

because you are the who is that.

no matter how la vie shapes you.

let the virtue speaks, not you.

1.11 pm aug 11

Comments 1 Comment »

  • like Earth, every end of its rotation brings a new start..