sept. 19. 12.45pm.. di kamar gw pas sma, yang udah lama ga gw tiduri.. [gosh, it feels truly homey..]
ga ada internet di kosan emang bener2 mematikan hubungan gw dg dunia luar.. walapun kadang dunia luar gw ambarkan sebagai racun dunia.. god, siapa bilang semua racun pahit? they’re sweet!
anyway, udah lama gw ga ngepost.. kadang gw berpikir ga ada internet juga mematikan potensi blurting out gw.. yet, is the is a will, there is a way..
so far, momen2 yan fascinated me a lot itu posko gempa di pengalengan.. i got the story written down already.. dan beberapa momen yang, argh i hate it, sedikit bikin hati lelah..
but who cares man?? lets roll!
———————–
Kamar 3, September 3, 2009. 9.52 pm
Hari ini udah bulan purnama lagi.. kalo melankolisnya mah, “waktu ternyata cepat banget berlalu.. andai dapat kuputar kembali..” kalo real-nya sih,” astajim! Gila, udah sebulan ajah.. EMS udah seminggu DAN masih bapuk bgt.,” [*EMS: Endocrine and Metabolic System]
Besok gw mau ke posko gempa Tasik di Pengalengan.. sama sekali ga ada bayangan apa yang akan gw lihat disana.. tenang2kah? Secara gempa udah lewat 2 hari yang lalu.. apa justru akan hectic? Apa bakal banyak korban yang heboh keadaan fisik dan mentalnya? Apa murka Tuhan kali ini?
Nihil. mau dibayangin kaya gimana juga, ini kali pertama gw jadi relawan di posko bencana,, semoga ada sesuatu yang menjadikan gw lebih baik dan banyak bersyukur.. kalo mengutip kata dr. Eni tadi siang,”kalo jari ini dicelupkan ke air laut dan diangkat lagi, maka dunia itu satu tetes yang jatuh dari ujung jari adalah dunia, dan seluruh lautan adalah akhirat..” it shakes me while writing that phrase..
oia, in the lowest point of my threshold last night.. gw berpikir.. ‘gw terlalu takut untuk jadi orang jahat, tetapi menjadi orang baik cukup melelahkan..’
satu targetan yang ingin bgt, seingin-inginnya, untuk gw dapetin saat berada di posko besok.. gw mau belajar ikhlas.. akhir2 ini gw sepertinya lupa kalo semua yg gw lakuin seharusnya berasal dan diakhiri oleh ikhlas.. banyaklah tamparan2 halus, yang mengingatkan gw akan ikhlas, gw rasakan cukup ngena, tetapi hati ini dg cepat adaptasi dan kembali tidak merasakan dampak tamparan itu lagi.. sebenernya ga mau dpt tamparan yang lebih keras, tapi rasanya perlu memenjarakan rasa sakit itu biar ga pernah lupa lagi.. astagfirullah..
Itu kan satu keinginan.. bolehlah gw berharap, toh gw juga manusia.. terkadang gw bingung, apakah sesuatu yang gw harapkan itu merupakan suatu ketidakikhlasan? Padahal, we do deserve something good in turn after share good deeds.. itu hukum alam.. beda ceritanya, kalo ternyata Allah sudah memutarbalikan dunia ini karena emang kiamat mungkin sebentar lagi..
——————————————————-
[ini essay eval yang diminta kang dani,, though, it doesnt look like an essay.]
Scrapmind. n. a mind in which cuttings and pictures may be stuck.
On The Way. 7.45 pm. Di dalam bis FK.
“Alhamdulillah, akhirnya target gw sebagai maba jaman dulu kesampaian juga: naik bis FK.”
“Gw ikut jadi relawan (untuk pertama kalinya) di posko gempa di Pengalengan bukan karena gw mau cari pengalaman, cari temen + networkings, bukan mau nerapin ilmu2 yang udah gw punya selama 1 tahun di kedokteran. Gw ke posko simply karena acara tanggal 6 september yang udah tersimpan di agenda gw selama 1 bulan tiba2 menghilang. Cancelled. Gw berangkat only for the sake of my restlessness.”
“Ternyata ada sekian banyak jenis orang.
a)Jenis Doraemon: bawa semua barang2 yang udah pasti diperlukan dan barang yang kira2 diperlukan dan yang sepertinya akan berguna, walaupun sedikit mengada-ada untuk membuat barang bawaan tsb berguna. Hasil: tas kurang lebih sama dengan kantong doraemon.
b)Jenis Nobita: list barang yang diperlukan udah siap. Dia tahu barang yang akan dia perlukan nanti di perjalanan 2 hari 1 malam, sekaligus tahu siapa yang akan bawa barang tersebut.Hasil: perjalanan ringan dan disinilah saatnya menerapkan teori bahwa manusia saling melengkapi.
Manusia saling melengkapi. The phrase sounds good, doesn’t it?”
Posko Utama. “medik lewat!”
“Rencana di agenda boleh disusun serapi mungkin, mekanisme kerja boleh dipikirkan seefektif mungkin. Tapi saat turun ke lapangan, kita harus flexible.à mengutip kata2 kang dani. Mungkin ini arti tawakal. Siapa sangka ruangan yang sengaja dibuat untuk merawat orang sakit, yang rencananya akan membuat orang sakit merasa nyaman, dengan kasur empuk dan segala macemnya, akan pindah ke lapangan parkir, yang kata ‘nyaman’ sama sekali tidak terdeskripsikan? Dan dokter disini, juga menyapu, mengepel, yang meracik obat, membangun tenda, mengangkut barang2, dan melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Dokter harus persistent.”
“Disini, ilmu ada di sekeliling kita, ga perlu dicari, hanya perlu didatangi. Mau tau praktek2 darurat kedokteran? Masuk aja ke tenda darurat pasko gempa. Ga mau di dalem tenda darurat yang hectic? Ada adik2 2009 yang siap ngedengerin ilmu yang udah kita punya. Kita bisa membantu in any way, asal mau.”
RW 13. Belasan dokter ‘in training’, satu dokter ‘in charge’.
“Dokter harus kerja cepat, sistematis, efektif, dan adil, siap in charge in any conditions. FLEXIBLE!”
gw ga akanse-aware ini seandainya gw ga ikut terjun ke lapangan..
“..dan doctors have to have a good sense of humor, because it is the shortest way between 2 people.”
Desa Margamukti. In the front line.
“Bersyukur. Dari sekian ratus relawan dan sekian ratus pasien, hanya kita yang bisa menindaklanjuti dan tau caranya.”
“Pekerjaan dokter bukan superficial. Kita juga bermain profundal [mental, hati, perasaan, dll]. Sama halnya dengan nulis resep, kita harus menegakkan diagnosis lebih dulu, karena kita bukan hanya mengobati gejala, tapi mengobati langsung ke penyebabnya.”
“ISPA: Alpara, Hipertensi: Captopril, Diare:Oralit, Dyspepsia: Antacid, Rheumatic: Analgesic. Tapi praktek ga semudah teori. Faktor X dalam setiap orang berbeda, makanya kita butuh anamnesis. Kita hanya dokter, kita hanya belajar ‘science of average’. Tinggal seberapa banyak kita berdoa.”
Desa Sukaluyu. Menjadi dokter diantara konsulen.
“Ga ada kata mahasiswa-mahasiswaan. Kita semua dokter.”
“Puluhan pasien bergantung pada digit jari kita. Be wise.”
Jatinangor. Kembali ke habitat masing-masing.
“Bahasa Sunda dan foto-foto bersama itu penting dan genting.”
“Makhluk apapun bisa jadi buas kalo belum makan lebih dari 16 jam.”
Di saat-saat terakhir, gw ngerasa pelajaran2 datang so intense at the time. Tensi, anamnesis, baca resep, dan teman-temannya memalingkan fokus gw dari sekedar mencoba mencari kata yang efektif untuk menggambarkan ini semua.
Herdinda THANKS dr. Gery, dr. Nike, kang bebs, kang dani, kang yasser, kang hario, kang galan, kang ryan, teh gyna, teh anin, teh tania, teh farizan, canun, suyitno, saif, muthiah, nanash, dwi, dina, cia, novia, ita, irma SO MUCH.
Pengalengan. September, 5th - 6th 2009.